SEPUTAR BAHASA ARAB

Blog seputar bahasa arab menyajikan konten seputar kajian kebahasa araban baik itu ilmu nahwu,sharaf,balagoh,imla dll.

ILMU NAHWU

ialah ilmu yang mempelajari sintaksis bahasa arab .

ILMU SHARAF

ialah ilmu yang mempelajari morfologi (pembentukan kata) dalam bahasa arab.

ILMU BALAGHAH

ialah ilmu yang mempelajari semantik dalam bahasa arab.

MARI BELAJAR BAHASA ARAB

Belajar bahasa arab itu indah dan menyenangkan.

Showing posts with label Ilmu Nahwu. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Nahwu. Show all posts

Thursday, November 30, 2017

PEMBAHASAN LENGKAP KALAM

PEMBAHASAN LENGKAP KALAM
  • Pengertian kalam
Sebenarnya terdapat banyak sekali pendefinisian terhadap kalam ditinjau dari bidang studi ilmu yang dipelajarinya berhubung pembahasan kalam ini tidak hanya ditemui di ilmu nahwu saja. Beberapa ulama mendefinisikan kalam sebagai berikut:
  1. Kalam menurut bahasa
    كل ما افاد
    “Segala sesuatu yang memberikan faidah”.
  2. Kalam menurut ulama fiqh
    كل ما ابطل الصلاة
    “segala sesuatu yang membatalkan solat”.
  3. Kalam menurut ulama tauhid
    عبارة عن المعنى القديم القائم بذات الله تعالى
    “suatu istilah untuk makna yang qadim yang terdapat pada dzat Allah SWT”.
  4. Kalam menurut ulama ushul
    اللفظ المنزل على محمد للاعجاز بأقصر سورة منه المتعبد بتلاوته
    “ suatu lafadz yang diturunkan kepada nabi Muhammad yang bernilai mukjizat walau dengan surat terpendek sekalipun dan juga bernilai ibadah bagi yang membacanya”.
  5. Kalam menurut ulama nahwu
    ما اجتمع فيه قيود اربعة
    “sesuatu yang didalamnya terhimpun empat unsur tata bahasa”.
Berhubung yang dibahas kali ini adalah kalam menurut ilmu nahwu, maka definisi terakhir adalah definisi yang paling relevan. Kalam ialah yang padanya terhimpun empat unsur tata bahasa, yaitu:
  • lafadz (اللفظ)
  • murakkab (المركب)
  • mufid (المفيد)
  • wadh’a (الوضع)
Empat unsur tersebut adalah unsur yang harus dipenuhi untuk membentuk suatu kalam yang sempurna, meskipun Ibnu Malik dalam kitab Alfiyyah meringkasnya menjadi dua, dalam baitnya yang terkenal:
كلامنا لفظ مفيد كاستقم# واسم وفعل ثم حرف الكلم
Meskipun Ibnu Malik hanya memberikan dua syarat untuk membentuk kalam, namun Ibnu malik mensiratkan unsur murakab dan wadh’a dalam mufid, ini tergambar dari contoh yang diberikannya استقم. Contoh ini telah memenuhi empat unsur yang telah dikemukakan sebelumnya.
Untuk lebih memahami empat unsur tadi, maka saya akan membahas empat unsur tersebut:
  1. Lafadz (اللفظ)
    definisi lafadz:
    الصوت المستمل على بعض الحروف الهجائية
    “suara yang menghimpun sebagian huruf hijaiyyah”
    Dari segi bahasa lafdz ini dapat diklasifikasikan kedalam dua, yaitu:
  • lafadz musta’mal, ialah lafadz yang biasa dipakai dalam ungkapan bahasa Arab, contoh زيد ، اسد
  • lafadz muhammal, ialah lafadz yang tidak digunakan dalam ungkapan bahasa Arab, contoh ديز، سدا
    sesuai kesepakatan ulama nahwu maka yang digunakan sebagai unsur pembentuk kalam adalah lafadz musta’mal, bukan lafadz muhammal
  1. Murakkab (المركب)
    Definisi murakkab
    ما تركب من كلمتين او اكثر
    “sesuatu yang tersusun dari dua kata atau lebih”
    dalam ilmu nahwu murakkab/tarkiib diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
  • Murakkab isnadi, ialah tersusunya musnad (mubtada dalam jumlah ismiyah dan fail dalam jumlah filiyah) dan musnad ilaih (khabar dalam jumlah ismiyah dan fiil dalam jumlah filiyah), seperti الله اكبر، جاء
  • Murakkab idhafi, ialah tersusunnya mudhaf dan mudhaf ilaih atau lebih terkenal dengan istilah idhafat, seperti غلام زيد
  • Murakkab majzi, ialah tersusunya dua kata yang menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dalam irab, seperti بعلبك
    Dari tiga murakkab diatas, yang menjadi penyusun kalam ialah murakkab isnadi.
  1. Mufid (المفيد)
    Definisi mufid
    ما افاد فائدة تامة يحسن السكوت من المتكلم والسامع عليها
    “sesuatu yang memberikan faidah sempurna dengan indikator diamnya pembicara (dari menambah perkataan) dan pendengar (dari menanyakan kembali)”
    Mufid dikategorikan menjadi dua, yaitu:
  • Mufid naqis, yaitu suatu ungkapan yang menunjukan fakta yang tidak mutlak, yang apabila diungkapan memberikan suatu faidah, Seperti قام محمد ungkapan ini memberi faidah tentang posisi subjek sedang berdiri yang sebelumnya memungkinkan untuk duduk dan berbaring.
  • Mufid tamm, ialah ungkapan yang tidak berfaidah (tidak memberikan manfaat), seperti النار حارة. Ungkap aan ini tidak memberikan suatu faidah, karena sudah mutlak bahwa api itu panas dan tidak ada yang memungkirinya.
    Mufid yang menjadi penyusun kalam ialah mufid naqis, bukan mufid tam
  1. Wadh’a (الوضع)
      Definisi wadh’a
    جعل الفظ دليلا على المعنى
    “lafadz menunjukan pada adanya makna”
    Sebagian ulama ada yang menyimpulkan wadh’a adalah harus dengan bahasa Arab.




      



Friday, May 5, 2017

Pembahasan khobar lengkap



KHOBAR
Materi ini sangat erat kaitannya dengan materi sebelumnya, mubtada dan khobar adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, dua kaidah ini selalu dibahas dalam satu pembahasan, namun penulis sengaja memisahkannya dengan pembahasan mubtada dengan tujuan supaya setiap pembahasan dibahas secara terperinci.
KHOBAR
1.      Definisi
Banyak para ulama nuhat yang memberikan definisi terhadap kaidah ini, sehingga kaidah khobar banyak ditemukan dengan definisi yang berbeda, sebagaimana berikut :
a.       Syekh shalih al-usaimin
هو الاسم المرفوع المسند اليه 
b.      Syekh abdul rahman al-hatab ar-ruaini
هوالجزءالذي يتم به الفائده مع المبتداء
c.      Syekh al-jurzani
هو اللفظ المجرد عن العوامل الفظية مسند الى ما تقدما لفظا نحو : بكر قائم او تقديرا نحو: اقائم زيد
d.      Syekh abdul rahman ad-dakr
هو الجزء الذي حصلت به او بمتعلقه مع المبتداء غير الوصف
Dari empat definisi diatas dapat ditarik empat persamaan yang dapat menjadi konsep dasar dari khobar, yaitu:
1.      Isim yang beri’rab rafa’
2.      Sebagai penyempurna mubtada
3.      Terletak setelah mubtada

2.      Penjelasan
Khobar adala isim yang beri’rab rafa’sebagai mana mubtada dan termasuk anggota dari marfuatil asma bersamaan dengan mubtada, selain dari fail, naib al-fail dll.Adapun indicator/aamil yang melatar belakangi keadaan rafa’nya adalah mubtada, sebagaimana perkataan Imam Ibnu Malik dalam kitab alfiyah:
ورفعوا مبتداء بالابتداء # كذاك  رفع خبر بالمبتداء
Keberadaan khobar berfunsi sebagai penyempurna mubtada, karena tidak mungkin mubtada dapat dipahami tanpa adanya khobar, karena salah satu syarat pembentukan kalam dalam bahasa arab harus lah murakab (tarkib isnadi) dalam artian adanya ketersusunan antara dua unsur atau lebih yang saling menyempurnakan makna, seperti dalam contoh الحمد لله
Pada dasarnya letak khobar itu setelah mubtada, namun dalam beberapa keadaan khobar malah harus diletakan sebelum mubtada, seperti yang telah penulis  dijelaskan dalam bab mubtada terdahulu.
3.      Klasifikasi khobar
Agus S. Kahaerani  dalam kitab Audloh Al-manaahij  megklasifikasikan khobar menjadi tiga   bagian :
a.       Khobar mufrad
Khobar mufrad ialah khobar yang dibentuk dari isim jamid (isim bukan dari hasil penderivasian), seperti dalam contoh  هذا قلم, atau isim musytaq (isim yang merupakan hasil derivasi dari fiil/masdar) seperti dalam contoh انا قائم, atau muawwal bil musytaq (isim mausul, isim nisbat atau isim isyarah  dll.) seperti dalam contoh زيد هذا (اي الحاضر)  زيد عربي ( اى المنسوب بالعرب) ،  زيد الذى قام ( اى المعروف قيامه)
      b. Khobar Jumlah
          Khobar jumlah ialah khobar yang dibentuk dari jumlah sugra ( klausa minor) yang terdiri dari jumlah ismiyah atau jumlah fi’liyah seperti dalam contoh  زيد قام ابوه dan   زيد ابوه قائم. Dalam khobar al-jumlah disyaratkan adanya irthibat (keterkaitan) antara mubtada dan khobar, baik itu berupa dhomir dalam khobar yang kembali pada mubtada seperti dalam contoh sebelumnya, atau berupa isim isyarah yang menyimpan musyar ilaih yang kembali kepada mubtada seperti dalam contoh ولباس التقوى ذلك خير .
c. Khobar sibhu al-jumlah
   Khobar sibhu al-jumlah ialah khobar yang dibentuk dari susunan jar-majrur dan dharaf seperti dalah contoh زيد فى الدار، زيد امامك
Dua jenis khobar terakhir ini dalam mayoritas kitab nahwu disebut dengan khobar ghair al-mufrad.
Catatatn:
Istilah mufrad yang digunakan dalam bab khabar ini ialah mufrad dalam artian kebalikan dari jumlah, bukan istilah mufrad yang digunakan dalam bab i’rab.
Untuk lebih jelasnya saya akan menjelaskan perbedaan istilah-istilah mufrad dalam bab-bab ilmu nahwu.
1. Mufrad dalam bab kalam
ضد المركب
“Kebalikan dari murakkab”

2.  mufrad dalam bab i’rab
ما ليس مثنا ولا مجموعا ولا ملحقا بهما ولا من الاسماء الخمسة
"Ialah isim yang bukan termasuk tasniyah,jamak, mulhaq jamak dan asma al-khomsah (isim lima)” singkatnya mufrad dalam bab ini ialah mufrad yang dirafakan dengan dhamah, dinasabkan dengan fathah,dijarkan dengan kasrah.
3. mufrad dalam bab khabar
ما ليس جملة ولا سبيها بالجملة
“Ialah yang bukan merupakan jumlah atau serupa dengan jumlah”   
4.  mufrad dalam bab munada
ما ليس مضافا ولا شبيها بالمضاف
“ Ialah yang bukan merupakan idhafat  atau serupa idhafat”


 Referensi:
1.     Kitab audloh al-masalik
2.     Kitab mutammimah al-jurumiah
3.     Skripsi Husni Gundar (mubtada wa al-khobar fii surat al-a’raf)
4.   Kitab Jaami ad-Durus al-Lughah al-Arabiyah

Thursday, March 23, 2017

USLUB MEMUJI DAN MENGHINA (اسلوب المدح والذم)



USLUB MEMUJI DAN MENGHINA (اسلوب المدح والذم)
Dalam ilmu nahwu dikenal beberapa uslub yang disebut assalibu an-nahwiyah  (الاساليب النحوية) , yang merupakan jamak dari kata اسلوب . Kata اسلوب berarti gaya bahasa dalam bahasa Indonesia   (kamus mutarjim), diantara uslub-uslub yang ada dalam ilmu nahwu adalah uslub istifham ,uslub sarti, uslub tahdir,uslub igra,uslub tanaju, dan uslub madh wa dzam yang akan saya bahas dalam postingan kali ini.
Ulama ahli nahwu membagi uslub madh wa dzam(اسلوب المدح والذم) menjadi 3 bagian,yaitu:
1.      Uslub madh wa dzam dengan menggunakan kata نعم untuk memuji dan  بئسuntuk meghina.
2.      Uslub madh wa dzam dengan menggunakan kata حبذا untuk memuji dan  لا حبذاuntuk menghina.
3.      Uslub madh wa dzam dengan menggunakan wajan fiil tsulasi.

A.    Uslub madh wa dzam dengan menggunakan kata نعم dan  بئس

1.      نعم dan  بئس
Para ulama berbeda pendapat tentang نعم dan  بئسapakahtermasuk fiil atau isim, ulama Bashrah berpendapat bahwa keduanya adalah fiil dengan beralasan keduanya bisa dimasuki oleh ta ta’nis sukun dan merafakan failnya seperti dalam contoh نعمت المرأة فاطمة, ulama kuffah  berpendapat bahwa keduanya adalah isim dengan beralasan keduanya bias dimasuki alif lam seperti dalam contoh , saya sendiri sependapat dengan ulama Bashrah karena hujah mereka kuat dan paling banyak dijadikan referensi oleh ulama lainnya.
2.      Memuji dan menghina menggunakan نعم dan  بئس
a.      Unsur-unsur
Sebelum kita membahas uslub ini lebih rinci saya akan menjelaskan usnsur-unsur yang terdapat dalam uslub ini terlebih dahulu. Unsur-unsur yang terdapat dalam uslub ini adalah sebagai berikut:
a.       نعم dan  بئس, merupakan fiil jamid yang bermakna memuji atau menghina
b.      Isim setelah نعم dan  بئس merupakan fail dari kedua fiil tersebut.
c.       Isim setelah fail نعم dan  بئسdisebut mahsus yang merupakan obkek dari pujian atau hinaan.
d.      Jumlah نعم dan  بئسbeserta fiilnya merupakan khabar yang didahulukan ia berirab rafa secara mahal(kedudukannya)
e.       Mahsus merupakan mubtada yang diakhirkan.



Jika kita buat skema untuk  uslub memuji dan menghina menggunakan نعم dan  بئسmaka gambarannya sebagai berikut:
Mahsus
Fail
نعم dan  بئس
محمد
الرجل
نعم
هند
المراة
بئست
Mubtada yang diakhirkan
Jumlah khabar yang didahulukan

b.      Fail dari نعم dan  بئس
Dalam membuat fail dari نعم dan  بئس bias dengan empat cara,yaitu:
1.      Berupa isim yang dimarifatkan dengan ال, seperti dalam contoh نعم الرجل محمد
2.      Berupa isim nakirah yang diidhafatkan kepada isim yang dima’rifatkan dengan ال seperti dalam contoh نعم مكان الجزاء الجنة
3.      Berupa dhomir mustatir yang dijelaskan oleh tamyiz seperti dalam contoh نعم خلقا الصدق
4.      Berupa isim mausul (من dan  ما) seperti dalam contoh نعم ما يقول العالم,بئس من يقول الكاذب

c.       Hukum-hukum mahsus
Mahsus atau isim yang menjadi objek pujian atau hinaan mempunyai beberapa keadaan dalam kalimat, sebagai berikut:
1.      Mahsus boleh didahulukan dari fiil, seperti dalam contohالصادق نعم الرجل , dalam keadaan seperti ini maka mahsus berkedudukan sebagai mubtada. Ulama nahwu menamai mahsus macam ini dengan mus’ir (مشعر) sebagai mana perkataan ibnu malik dalam magnum opus-nya kitab alfiyah ibnu malik,
وان يقدم مشعر به كفى # كالعلم نعم المقتنى والمكتفى
2.      Mahsus boleh didahuli oleh amil nawasikh, baik ia terletak setelah fiil seperti dalam contoh نعم الرجل كان محمدmaka dalam keadaan seperti ini mahsus berkedudukan sebagai isim كان dan fiil beserta  failnya berkedudukan sebagai khobar كان yang didahulukan, atau ia terletak sebelum fiil dan failnya seperti dalam contoh نعم الرجل كان محمد
3.      Boleh membuang mahsus jika terdapat indicator (qarinah) yang jika mahsus dibuang perkataan dapat dipahami, seperti percakapan 2 orang sahabat yang menceritakan kepintaran sahabatnya Ahmad  نعم الرجل, انه عالم  jika kita perjelas percakapan tersebut maka akan menjadi نعم الرجل احمد, انه عالم  kata Ahmad dalam percakapan tersebut dibuang karena kedua sahabat tersebut telah mafhum dengan yang Ahmad yang diceritakan.




B.     Uslub madh wa dzam dengan menggunakan kata حبذا dan  لا حبذا

1.      حبذا dan  لا حبذا
حبذا merupakan rangakaian dari dua kata, berupa fiilحبyang berarti suka atau cinta danذا isimisyaroh yang berbentuk mufrad mudzakar , sedangankan لا حبذا dengan tambahan  لا nafyi yang menjadikan maknanya menjadi negative.
2.      Unsur-unsur
Seperti pada pembahasan uslub madh wa dzam dengan نعم dan  بئس, حبذا dan  لا حبذا juga mempunyai unsur-unsur yang berbeda dengan sebagai berikut:
a.       حب merupakan fiil madhi jamid (yang tidak di derivasi) .
b.      ذا merupakan fail dari حب.
c.       Isim nakirah setelah ذا berkedudukan sebagai tamyiz yang menjelaskan ذا.
d.      Isim marifat setelah tamyiz berkedudukan sebagai mubtada yang diakhirkan.
e.       Khobar dari mubtada adalah jumlah fiil fail beserta tamyiznya.
Jika kita buat skema untuk  uslub memuji dan menghina menggunakanحبذا dan لا حبذاmaka gambarannya sebagai berikut:
Mahsus
Tamyiz
Fail
Fiil
الجنة
المئوى
ذا
حب
النار
المئوى
ذا
لاحب
Mubtada yang di akhirkan
Jumlah khobar yang didahulukan

3.      Hukum-hukum mahsus
Para ulama nahwu berbeda pendapat tentang penempatan mahsus untuk حبذا dan لا حبذا, Imam Abdul Rahman Al-makudi dalam syarahnya terhadap kitab alfiyah ibnu malik mengatakan bahwa mahsus pada حبذا dan لا حبذاharus berada setelah fiil dan fail, sedangkan A. Sohib Khairani seorang ahli nahwu asal Indonesia dalam bukunya Audlohul manaahij berpendapat bahwa mahsus pada حبذا dan لا حبذا boleh didahulukan seperti dalam contoh الصالح حبذا عبدا, bahkan beliau menambahkan bahwa tamyiz boleh didahulukan dari mumayaznya seperti alam contoh رجلا حبذا الصالح .

C.    Uslub madh wa dzam dengan menggunakan wajan fiil tsulasi
Para ulama juga membolehkan membuat uslub madh wa dzam dengan menggunakan fiil, dengan syarat sebagai berikut:
1.      Fiil harus terbuat dari fiil tsulasi
2.      Berwajan فعُل  (dhamah a’in fiil)
3.      Fiil berbentuk jamid (tidak diderivai)
4.      Adapun amalnya mengikuti amal نعم dan  بئس
Catatan : jika fail fiil tersebut berbentuk mustatir yang kembali kepada tamyiz setelahnnya, maka ada 2 alternatif dalam penulisan fiilnya, sebagai berikut:
1.      Fiil berbentuk mufrad secara mutlak baik failnya berbentuk tasniah, muanast, atau jamak
2.      Fiil menyesuaikan dengan failnya.






loading...