SEPUTAR BAHASA ARAB

Blog seputar bahasa arab menyajikan konten seputar kajian kebahasa araban baik itu ilmu nahwu,sharaf,balagoh,imla dll.

ILMU NAHWU

ialah ilmu yang mempelajari sintaksis bahasa arab .

ILMU SHARAF

ialah ilmu yang mempelajari morfologi (pembentukan kata) dalam bahasa arab.

ILMU BALAGHAH

ialah ilmu yang mempelajari semantik dalam bahasa arab.

MARI BELAJAR BAHASA ARAB

Belajar bahasa arab itu indah dan menyenangkan.

Thursday, December 7, 2017

BERPUASA


    Puasa secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Sedangkan secara terminologi adalah menahan diri pada siang hari dari berbuka dengan disertai niat berpuasa bagi orang yang telah diwajibkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
   Syarat wajib puasa yang harus kita ketahui yaitu ada 3 perkara dan menurut sebagian salinan matan ada 4 perkara yaitu: 1). Islam 2). Baligh 3). Berakal 4). Mampu atau kuasa untuk berpuasa.
  Dan perkara yang dapat membatalkan puasa yaitu ada 10 perkara:
1). Masuknya aen atau sesuatu terhadap jauf dengan sengaja
2). Sampainya aen yang dinamai perkara ini terhadap jauf (rongga)
3). Memasukan obat pada salah satu lubang ( minum obat atau masuk kemana saja sesakitnya orang sakit
4). Muntah halnya di sengaja maka seandainya tidak di sengaja tidaklah batal puasanya
5). Wati ( bersetubuh) halnya di sengaja pada parji, maka seandainya lupa atau tidak di sengaja tidaklah batal puasanya
6). Keluar air mani, maksudnya keluar air mani karena bersentuhan kulit meski tidak berjima ( rangsangan ) diharamkan berpuasa jika keluar air mani dengan tangannya sendiri, tidak di haramkan jika keluar air mani dengan tangan istrinya atau dengan tangan jariyahnya ( budak perempuan ). Kecuali keluarnya air mani di sebabkan mimpi maka tidak batal puasnya
7). Haid
8). Nifas
9). Gila
10). Murtad
 
Dan di sunatkan saat berpuasa 3 perkara:
1). Disunatkan menyegerakan berbuka seandainya yakin bahwa waktu magrib atau waktu berbuka telah tiba dan di sunatkan ketika berbuka dengan 3 biji buah kurma dan jika tidak maka dengan air putih
2). Disunatkan mengakhirkan sahur selama takada keraguan waktu imsak dan hasil atau sah ahurnya meski hanya sedikit makan dan minumnya
3). Disunatkan meninggalkan keburukan keburukan, lebih jelasnya yaitu meninggalkan keburukan dari ucapan-ucapan yang buruk
  Dan juga berpuasa itu sangat banyak manfaatnya bagi kesehatan, karena berpuasa ada kaitannya dengan proses detoksifikasi atau pengeluaran zat racun dari tubuh, apa lagi jika berpuasa di bulan ramadhan yang di lakukan selama 1 bulan penuh yang dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat.

  Manfaat-manfaatnya yaitu:
1. Meningkatkan kemampuan otak; karena ouasa dapat meningkatkan neurotropik yang diturunkan dari otak, yang membantu tubuh untuk memproduksi lebih banyak sel-sel otak, dan pada akhirnya dapat meningkatkan fungsi otak.
2. Membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah; karena ketika berpuasa penurunan LDL yang baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.
3. Menurunkan kadar kolestrol; karena orang yang berpuasa dapat menurunkan kadar kolestrol dalam darah (dalam sebuah penelitian di Uni Emirat Arab).
4. Dapat berfikir lebih tajam dan kreatif; karena berpuasa dapat membuat fikiran menjadi lebih tenang dan melambat, dan menurut sebuah penelitian jika fikirannya melambat dapat membuatnya bekerja lebih tajam.
5. Mengurangi kebiasaan buruk; karena berpuasa adalah salah satu cara yang tepat untuk mengubah gaya hidup yang tidak sehat dan pola makan yang buruk.

 Dan juga masih banyak lagi manfaat berpuasa salain ke 5 manfaat di atas tadi.

  Adapun dalil yang menjelaskan tentang wajib berpuasa yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍفَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, barang siapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, itulah yang lebih baik baginya. Berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui".

Pernikahan dalam pandangan islam


   Apabila kita berbicara tentang pernikahan , kita tau bahwa pernikahan sebuah perintah agama . Sebagaimana kebutuhan lain nya , pernikahan adalah suatu kebutuhan biologis yang dibutuhkan oleh setiap orang , Pernikahan sesungguhnya bukan hanya sekedar sarana penyaluran kebutuhan seks namun lebih dari itu pernikahan juga menjanjikan perdamaian setiap hidup manusia . semua hal itu akan benar benar terjadi apabila dilakukan nya dengan cara benar dan telah di tetapkan oleh islam . sebagai mana di terangkan dalam Alquran .
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

"Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.¨[QS. Yaa Siin (36):36].

   Pernikahan adalah suatu ikatan suci yang di jalani oleh laki laki dan perempuan dengan tujuan ingin mendapat keridhoan Allah swt.
  Suatu pernikahan apanila di laksanakan akan mendapat pahala tetapi apabila tidak di laksanakan tidak mendapatkan dosa dan dimakruhkan karena tidak mengikuti sunah rosul. 
   Dan suatu pernikahan mempunyai tujuan yaitu ingin membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah serta ingin mendapatkan keturunan yang sholeh dan sholehah.  keturunan inilah yang selalu di dambakan setiap orang yang sudah menikah , karena keturunan merupakan generasi bagi kedua orang tuanya.
  Beberapa hikmah pernikahan dalam agama islam yaitu:
Rezeki semakin berlimpah .Dalam hadist riwayat Imam Ad Dailami berkata "Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarg,memperoleh pertolongan Allah swt )dan
Dalam Alquran dijelaskan :

 وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةًۭ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ۚ أَفَبِٱلْبَٰطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ ٱللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

"Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” [QS. An Nahl (16):72].

mendapat pahala yang berlipat  ganda ,dosa kita di ampuni ketika bermesraan dengan pasangan, menggenapkan Setengah agama islam nya.
   Agar seorang suami isteri melaksanakan syari'at islam dalam rumah tangganya, seorang suami isteri mendapatkan keturunan dalam hidup nya  , diperoleh keutamaan mencari rezeki , dan untuk taat dan menjaga kehormatan seorang suami .
   Maka melaksanakan suatu perkawinan itu dapat dikenakan hukum Wajib, Sunnah, Haram, makruh ataupun Mubah . Dalam hukum wajib yaitu apabila seseorang yang hendak menikah telah mampu, sedang ia tidak segera amat di khawatirkan akan berbuat zina. Dalam hukum sunah nya manakala orang yang hendak menikah menginginkan sekali punya anak, tetapi ia mampu mengendalikan diri dari perbuatan zina. Dalam hukum makruh yaitu apabila seseorang yang hendak menikah belum berniat untuk punya anak. Dan dalam hukum haram yaitu bagi orang apabila ia kawin, justru ia akan merugikan istrinya karna ia tidak mampu memberi nafkah lahir batin.

Jadii untuk para jombloo, tenang aja yahh karna jodoh mu udahh di atur secara baik baik sama Allah swt

*Mengharapkan Dicintai Allah SWT*

     Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa, dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian, dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.
    Cinta, dilihat dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, sejumlah seniman, teolog, sampai filsuf membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya, baik dalam bentuk roman, puisi, syair, bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis, ataupun sosiologis.
   Filsuf sekaliber plato bahkan pernah mengatakan "Siapa yang tidak terharu oleh cinta berarti berjalan dalam gelap gulita". Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian plato pada masalah cinta, sampai-sampai ia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.
   Peranan cinta dalam kehidupan tidak diragukan lagi pentingnya. Cinta diyakini sebagai dasar dari perdamaian, keharmonisan, kententraman, kebahagiaan, bahkan kebangkitan peradaban. Namun, apa sesungguhnya cinta itu? Diakui, problem yang dihadapi saat membicarakan cinta biasanya adalah persoalan definisi. Belum pernah ditemui suatu rumusan tentang cinta yang singkat, padat dan mewakili pemahaman akan hakikat cinta secara tepat.
    Jalauddin Rumi pernah mengatakan bahwa cinta itu misteri, tidak ada kata-kata yang bisa mewakili kedalamannya.
Cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita,
Cinta adalah sebuah samudera yang kedalamannya tak terukur…
Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan, buku-buku dan lembaran-lembaran halaman.
Apapun yang orang bicarakan itu, bukanlah jalan para pecinta.
Apapun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya;
Intisari cinta adalah misteri yang tak dapat kau buka!
Cukuplah! Berapa banyak lagi kau akan lengketkan kata-kata di lidahmu?
Cinta memiliki banyak pernyataan melampaui pembicaraan…

   Eric fromm, murid kesayangannya Sigmund Freud menyebutkan empat unsur yang harus ada dalam cinta, yaitu:
  • CARE (perhatian), Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Kalau kita mencintai Allah, kita akan benar-benar memperhatikan hal-hal apa saja yang diridhai atau dibenci oleh-Nya.
  • RESPONSIBILITY(tanggung jawab), Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual, dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Karyawan yang mencintai perusahaannya, akan bertanggung jawab pada kemajuan perusahaannya. Orang yang mencintai Tuhannya, akan bertanggung jawab untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah Responsibility.
  • RESPECT (hormat), Cinta harus melahirkan sikap menerima objek yang dicintai apa adanya. Kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki, sehingga kita selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect.
  • KNOWLEDGE (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Kalau kita mencintai Tuhan, maka harus berusaha memahami ajaran-ajaran-Nya.
     Jika unsur keempat itu ada dalam kehidupan kita insyaallah hidup kita akan bermakna. sebagai mana Hadis dikatakan "Tidak sempurna iman seseorang kalau dia belum mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”. “Cintai olehmu makhluk yang ada di muka bumi, pasti Allah akan mencintaimu”. (H.R. Muslim) 
    Cinta manusia kepada Allah adalah puncak cinta manusia yang bening dan jernih. Cinta sebagai mediator untuk mengikat atau menghubungkan hamba dengan Allah. Adanya kerinduan ingin bertemu dengan Allah dan kerinduan kepada-Nya tidak hanya berkomunikasi dalam bentuk shalat, do’a, dzikir, dan membaca Al Qur’an saja, melainkan seluruh tingkah laku dan tindakannya ditujukan kepada Allah yang satu “La ilaha illallah”. Rasulullah adalah orang yang patut dijadikan uswah atau teladan dalam mengaktualisasikan cinta kepada Allah.
"Katakanlah: jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (Q.S. Ali Imran [3]:31)
loading...